mengenangmu dengan rapih
aku masih seperti kemarin
memilih tetap sama namun dalam hening
tidak apa, dirimu tidak perlu tau
diriku yang tengah terhujam sendu
katamu aku layaknya matahari yang menerangi duniamu
kala itu, aku hanya menanggapi dengan tersenyum haru
tapi perlu engkau tahu
aku telah lama menetapkanmu menjadi langit biruku
sejak saat itu aku memustuskan untuk senantiasa menjadi sang suryamu
namun, akhirnya kau memilih bersahabat dengan awan hitam dan menutupi diriku
MENGAPA!?
duniamu atau duniaku terlihat begitu mendung tapi sama halnya dengan matahari yang tertutup awan
ia masih bisa mengasihi sinarnya untuk semesta
begitu juga aku walau sudah tak terpandang
senja berlalu menjemput gelap
namun tentang langit biru, masih akan terus meluap
entah aku yang terlalu bodoh
terlalu memaksa atau terlalu percaya diri
mataku terpejam pun aku masih berharap dapat kembali menggapai sosok langit biru esok hari lagi
Ini bukan sekedar rindu
tapi tentang rasa yang ingin aku tuntaskan
gulana memang karena semua begitu ambigu
tapi untuk seseorang yang pernah menjadi binar duniaku
mengenangmu dengan rapih
pasti aku sanggup
Komentar
Posting Komentar